Saturday, March 30, 2013

Kisah Motivasi "Siput dan Katak"

Ada seekor siput selalu memandang sinis
terhadap katak.

Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran
akhirnya berkata kepada siput :

"Tuan siput, apakah saya telah melakukan
kesalahan, sehingga Anda begitu membenci
saya?"

Siput menjawab : "Kalian kaum katak
mempunyai empat kaki dan bisa melompat
kesana kemari, Tapi saya mesti membawa
cangkang yang berat ini, merangkak di tanah,
jadi saya merasa sangat sedih."

Katak menjawab : "Setiap kehidupan memiliki
kesulitan dan penderitaan-nya­ masing-masing,
hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan
saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan
kami."

Dan seketika itu, ada seekor elang besar yang
terbang ke arah mereka, siput dengan cepat
memasukkan badannya ke dalam cangkang,
sedangkan katak dimangsa oleh elang.

Akhirnya siput baru sadar...ternyat­a cangkang
yang dimilikinya bukan merupakan suatu
beban...tetapi adalah kelebihannya.

Pesan cerita : Nikmatilah kehidupanmu, tidak
perlu dibandingkan dengan orang lain. Keirian
hati kita terhadap orang lain akan membawa
lebih banyak penderitaan.
Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki, hal
tersebut akan membawakan lebih banyak rasa
syukur dan kebahagiaan bagi kita sendiri...

Kisah 3 Pengembara

Alkisah, tiga orang pengembara tersesat di hutan belantara. Berhari-hari mereka mencari jalan keluar, tapi yang mereka temui melulu pepohonan dan binatang berbahaya.

Di hari keempat, mereka bertemu suku asli penunggu hutan. Awalnya ketiga pengembara itu senang, berharap orang-orang suku itu bisa menunjukkan jalan keluar dari hutan, tapi ternyata mereka adalah suku pemangsa manusia.

Mengetahui hal tersebut, ketiga pengembara lalu memohon agar tidak dibunuh. Kepala suku lalu berkata, "Kalau kalian masih mau hidup, kalian harus pergi ke hutan dan bawa kembali SEPULUH buah yang jenisnya sama. Cepat!"

Mendengar itu, langsung ketiga pengembara berlari mencari buah-buahan. Satu jam kemudian, pengembara pertama datang membawa sepuluh buah apel.

Kepala Suku lalu memberi instruksi :

"Kamu sudah membawa 10 buah apel. Sekarang kamu harus memakan semua buah itu. Tapi tidak boleh dikunyah, kamu harus menelannya bulat-bulat. Kalau kamu tersedak, atau mengeluarkan suara, apalagi sampai muntah, kamu akan dimasukkan ke dalam kerangkeng, dan siap-siap jadi santapan makan malam kami, hahahahaha.....­!!!!!!"

Meski bergidik, pengembara pertama berusaha mematuhi perintah kepala suku. "Dari pada mati," pikirnya. Dia menelan apel pertama tanpa suara. Dengan penuh perjuangan dan ketahanan akhirnya apel pertama berhasil dia telan. Namun di apel kedua ia tidak bisa menahan sesak di tenggorokan dan dadanya. Dia pun tersedak.

Dengan beringas, orang-orang suku lalu menyeret si pengembara ke dalam kerangkeng. Dia pun mendekam di sana, menghitung waktu hingga saat makan malam tiba.

Tak lama kemudian, datang pengembara kedua. Dia membawa 10 buah lengkeng. Dan kepala suku memeberikan instruksi yg sama kepada pengembara kedua. Dalam hatinya si pengembara dua berkata, "Wah, untung aku cari buah lengkeng tadi. Ini sih gampang, aku pasti selamat."

Dan memang betul. Satu lengkeng tertelan, dua lengkeng, tiga lengkeng... tapi pada saat ia menelan lengkeng kesepuluh, orang-orang suku itu menyeretnya ke dalam kerangkeng.

Di dalam kerangkeng, pengembara dua melihat pengembara pertama sedang meringkuk putus asa.

Pengembara 2: "Wah ternyata kamu tertangkap juga. Kamu gagal toh?"

Pengembara 1: "Iya aku bawa apel sih. Kan bikin sesak! Sialan tuh kepala suku, memang dasarnya dia mau membunuh kita! Trus kamu bawa buah apa?"

Pengembara 2: "Lengkeng."

Pengembara 1: "Lengkeng? Itu kan gampang, kecil, gak bikin sesak dong!"

Pengembara 2: "Emang betul. Semua lengkeng hampir berhasil aku telan. Tapi ya itu, tiba-tiba aku tertawa dan semua lengkeng yang aku telan malah nyembur keluar ...."

Pengembara 1: "Bego kamu! Lagian kenapa ketawa?"

Pengembara 2: "Habis pas mau masukin lengkeng kesepuluh, aku lihat pengembara 3 bawa DUREN!"

Berbuat Baiklah

Pada suatu ada seorang ayah dan anak lelakinya sedang berbincang-bincang, sang anak menyampaikan keluh kesah pada ayahnya

“Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek …
aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek …aku mau menyontek saja!

aku capek. sangat capek …
aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! …

aku capek, sangat capek …
aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung …aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku …

aku capek ayah, aku capek menahan diri …aku ingin seperti mereka.. mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah !” sang anak mulai menangis

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu ”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak . kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang, lalu sang anak pun mulai mengeluh

”ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah" sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini !” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah?” ” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu ”
”Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”

” Nah, akhirnya kau mengerti”
” Mengerti apa? aku tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

”Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
”Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi … ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri … maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri … seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya … maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang … maka kau tau akhirnya kan?”

” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Wednesday, March 13, 2013

Zona Nyaman

Zona nyaman adalah wilayah orang yang merasa nyaman di dalam keadaan yang TIDAK nyaman.

Jika nyaman, mengapakah dia mengeluh?

Maka marilah kita menghindari melatih diri untuk menyesuaikan diri dengan kekurangan.

Marilah kita mengupayakan yang lebih.

Bersyukur itu harus, tapi lebih bersyukur – sebaiknya diupayakan.

Sesungguhnya, kita berhak bagi kehidupan yang baik, dan yang lebih baik lagi.

Marilah kita mengupayakannya, agar Tuhan memperbaiki nasib kita.

Nasib baik bukan hanya untuk ditunggu.

Nasib baik harus diupayakan.

Memang semua ada dalam kewenangan Tuhan, tapi Dia tidak akan memperbaiki nasib Anda, jika Anda sendiri memilih untuk tidak bergerak.

Bergeraklah.

Anda tidak diciptakan untuk menjadi makhluk lamban yang peratap.

Bergeraklah.

Wednesday, March 6, 2013

Dialog Singkat Tentang Wanita Dalam Islam


Seorang Lelaki inggris bertanya kepada temannya yang seorang muslim: "Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh berjabat tangan dengan pria?"  

Teman Muslim menjawab: "Bisakah kamu berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth?"  

Lelaki inggris menjawab: "Oh, tentu tidak bisa! Cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan Ratu kami."

Teman Muslim tersenyum & berkata: "Wanita2 kami(Kaum muslimin) adalah para Ratu & Ratu tentunya tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yang bukan mahramnya)"
Lalu si Inggris bertanya lagi, "Lalu kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka ?"
Teman muslim tersenyum, ia mengambil dua buah permen, ia membuka bungkus yg pertama lalu yg satu lagi dibiarkan tertutup. Kemudian dia lemparkan kedua permen itu kelantai yang kotor.
Teman Muslim lalu bertanya: " Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yg anda pilih?"
Si inggris menjawab cepat: "Pasti yang tertutup...."
Teman Muslim berkata: "Nah, seperti itu cara kami memperlakukan & melihat perempuan kami" :)

Kisah Burung Elang

Semua orang tahu bahwa elang adalah burung yang mampu terbang paling tinggi di dunia ini. Elang bahkan membuat sarang di ketinggian. Padahal semua tahu bahwa di ketinggian, angin selalu bertiup sangat kencang.

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang.

Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan:
Menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan — suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali.

Elang selama ini menjadi icon bagi banyak motivator trainer untuk menunjukkan bahwa seseorang perlu memotivasi diri untuk terus terbang ke atas semakin tinggi hingga sampai di atap dunia. Bahkan ada novel kecil dengan judul “Jonathan Livingstone Seagull”, tentang seekor Camar yang berusaha untuk terbang lebih tinggi seperti elang.

Ternyata elang tidak mendapatkan semua itu secara serta merta. Bahkan secara genetis saja elang tidak mendapatkan kemudahan untuk terbang tinggi. Benar bahwa bentuk tubuh, rentang sayap dan kekuatan kepak dan bulu-bulu sayap memang memungkinkan elang untuk terbang tinggi. Tetapi kemampuan terbang tinggi itu tidak mudah untuk dipertahankan.

Hanya saja, elang tidak melakukan pilihan. Elang melakukan begitu saja tanpa berfikir. Semua proses 150 hari tersebut dilakukan tanpa pernah menimbang-nimbang apakah akan terasa menyakitkan. Bagaimana dia mengumpulkan makanan agar tetap memiliki energi selama proses transformasi, tidak pernah dia fikirkan. Semua dijalankan sebagai sebuah keharusan hidup.

Sebagai manusia kita memang memiliki kebebasan untuk memilih. Namun sayangnya ada zona kenyamanan yang seringkali membatasi pilihan-pilihan hidup kita. Tetapi benarkah kita lebih menyukai kenyamanan kekinian dibandingkan kenyamanan lain.

Kenyamanan lain? Ya, ada beberapa hal yang selama ini kita tidak miliki dan sangat ingin kita miliki, tetapi itu berarti kita harus mengubah sesuatu. Cara hidup kita selama ini perlu kita ubah bila kita ingin mendapatkan sesuatu.

Analoginya sangat mudah, ketika Anda ingin pergi ke suatu tempat padahal Anda tidak sedang berada di tempat itu, maka Anda harus bergerak pindah tempat. Bukankah itu berarti tempat Anda berdiri berubah. Maka, ketika Anda memang tidak ingin pergi kemana-mana, Anda memang tidak perlu berubah. Ketika Anda tidak ingin mendapatkan sesuatu, Anda memang tidak perlu berubah. Tidak perlu keluar dari zona kenyamanan Anda.

Zona yang Anda tuju justru bisa saja lebih nyaman, namun sayang sekali, antara zona kenyamanan yang sekarang dengan zona kenyamanan yang Anda tuju berjarak dan melewati zona tidak-nyaman. Lihatlah ada 150 hari penuh zona tidak-nyaman bagi elang.

Ada kabar baik, ada kabar buruk di atas tadi. Semua sekarang tergantung pilihan Anda. Anda toh bukan elang yang tidak bisa memilih… “UBAHLAH APA YANG MASIH BISA DIUBAH. TERIMALAH APA YANG MEMANG SUDAH TIDAK BISA DIRUBAH. HINDARKAN DIRI DARI HAL-HAL YANG BERPOTENSI MENDATANGKAN PERUBAHAN BURUK.”